Analisis atau Review Kritis Substansi Artikel Tentang Etika dalam Penelitian, dan Kegunaan Kajian Pustaka Beserta Cara Mensintesanya
Hallo, Wellcome to my blog💗
Perkenalkan saya Cindy Tyas Harvina, saya merupakan mahasiswi S2 Pendidikan Fisika di Universitas Negeri. Pada kesempatan kali ini, saya sedang menempuh mata kuliah Metodologi Penelitian Kuantitatif.
Saya akan membagikan Deskripsi Novelty dan Analisis Kritis Artikel mengenai materi Penelitian kualitatif dan kuantitatif: Etika dalam penelitian, dan kegunaan kajian pustaka beserta cara mensintesanya, dari artikel yang berjudul "KEY CONCEPTS IN CLINICAL EPIDEMIOLOGY Research Integrity definitions and challenges"
Artikel berjudul “Research
Integrity: Definitions and Challenges” yang diterbitkan di Journal of
Clinical Epidemiology (2024) membahas isu-isu mendasar dan kontemporer
seputar integritas penelitian, khususnya dalam konteks ilmu biomedis.
Tujuan utama penelitian ini
adalah memperjelas definisi serta prinsip-prinsip integritas penelitian,
menyoroti implikasi pelanggaran integritas terhadap ilmu pengetahuan dan
masyarakat, serta menawarkan langkah-langkah praktis untuk menumbuhkan budaya
integritas di kalangan peneliti, institusi, dan pemangku kebijakan
Metode yang digunakan bersifat kajian
konseptual dan naratif dengan memanfaatkan literatur dan kasus nyata
sebagai dasar analisis. Penulis tidak melakukan penelitian empiris baru, tetapi
mengintegrasikan bukti-bukti terdahulu, data reaksi publik, serta inisiatif
internasional seperti DORA, CoARA, dan Hong Kong Principles untuk memberikan
kerangka berpikir tentang bagaimana integritas riset dapat ditegakkan
Hasil kajian menunjukkan bahwa
pelanggaran integritas tidak hanya berbentuk misconduct (seperti
fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme), tetapi juga praktik sehari-hari yang
merugikan, seperti manipulasi data, pelaporan bias, atau pengawasan yang buruk.
Dalam bidang biomedis, dampak pelanggaran ini bisa sangat serius karena dapat
memengaruhi uji klinis, pedoman praktik, hingga kebijakan kesehatan masyarakat.
Penulis juga menekankan bahwa integritas dapat ditingkatkan melalui penerapan
metode penelitian yang ketat, transparansi data, publikasi preprint, pelatihan
integritas, serta sistem penghargaan yang mendorong kualitas daripada kuantitas
Kesimpulannya, artikel ini
menegaskan bahwa menjaga integritas penelitian adalah tanggung jawab kolektif
semua pemangku kepentingan. Budaya riset harus memberi ruang untuk diskusi
terbuka, pembelajaran dari kesalahan, serta penanaman nilai integritas sejak
dini dalam pendidikan dan mentoring. Prinsip yang ditekankan adalah “mistakes
are expected, respected, inspected, and corrected,” yang menekankan sikap
reflektif dan perbaikan berkelanjutan
Kelebihan artikel ini adalah
kelengkapan kajiannya, menggabungkan perspektif konseptual, contoh empiris, dan
rekomendasi praktis yang komprehensif. Artikel ini juga terkini, sehingga
relevan dengan tantangan integritas penelitian masa kini. Namun, keterbatasannya
adalah kurangnya data empiris primer, sehingga rekomendasi lebih bersifat
normatif dan konseptual. Selain itu, fokusnya sangat dominan pada ilmu
biomedis, sehingga aplikasinya di bidang lain mungkin perlu penyesuaian.
Kebaruan (novelty):
Sejumlah studi mutakhir telah menyoroti isu-isu kontemporer seputar integritas penelitian, namun masing-masing masih menyisakan keterbatasan tertentu. Chou dkk. (2023) menekankan tantangan promosi integritas di Asia Timur, namun analisisnya terbatas pada konteks regional dan belum menawarkan kerangka universal lintas disiplin. Bjelobaba dkk. (2025) membahas dampak penggunaan generative AI terhadap integritas riset, tetapi fokusnya terlalu sempit pada aspek teknologi sehingga tidak menyentuh fondasi prinsip integritas secara menyeluruh. Lõuk (2023) menyoroti distribusi tanggung jawab pada berbagai level—individu, institusi, hingga pemerintah—namun kurang mendalami konsekuensi praktis kegagalan integritas di bidang-bidang kritis seperti biomedis. Sementara itu, Lindemann dan Häberlein (2023) mengaitkan integritas dengan paradigma open science, tetapi hanya menyoroti sebagian aspek, yakni keterbukaan data dan privasi. Artikel “Research Integrity: Definitions and Challenges” (Armond dkk., 2024) hadir untuk mengisi gap tersebut dengan menghadirkan kerangka konseptual yang lebih komprehensif. Artikel ini tidak hanya membahas definisi dan prinsip integritas penelitian, tetapi juga menekankan implikasi praktisnya, terutama dalam bidang biomedis, di mana pelanggaran integritas dapat berdampak langsung pada pasien, pedoman klinis, serta kebijakan publik. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan lintas konteks yang menautkan teori dan praktik, sekaligus menekankan budaya riset reflektif di mana kesalahan dianggap bagian dari proses ilmiah yang perlu diinspeksi dan diperbaiki secara terbuka. Dengan demikian, artikel ini melengkapi kekosongan dalam literatur sebelumnya yang cenderung parsial, serta menawarkan perspektif holistik mengenai integritas penelitian di era kontemporer.
Comments
Post a Comment