Analisis atau Review Kritis Substansi Artikel Tentang Statistik 1. Cek data, validitas, reliabilitas, dan asumsi
Hallo, Wellcome to my blog💗
Nama : Cindy Tyas Harvina
NIM : 250321829945
Mata Kuliah : Metodologi Penelitian Kuantitatif
Tema : Statistik 1. Cek data, validitas, reliabilitas, dan
asumsi
Offering : A25
Review Artikel
Judul Artikel: “Developing
critical thinking test for adolescents: A validity and reliability study from
the Czech Republic”
Tujuan:
Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengembangkan tes berpikir kritis yang valid dan
reliabel bagi remaja di Republik Ceko, serta menguji struktur faktor dari
kemampuan berpikir kritis yang terdiri atas tiga komponen utama:
- Analytical ability (kemampuan menganalisis),
- Evaluation ability (kemampuan mengevaluasi), dan
- Inferential ability (kemampuan menarik kesimpulan).
Selain itu,
penelitian ini bertujuan untuk memverifikasi model teoretis berpikir kritis
berdasarkan kerangka Bloom’s Revised Taxonomy (Anderson & Krathwohl,
2001) dan model terpadu berpikir kritis dari Dwyer et al. (2014) yang
menjadi dasar pengembangan instrumen.
Metode:
Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan validasi psikometrik.
Sampel penelitian terdiri dari 9.495 siswa kelas satu sekolah menengah (usia
rata-rata 15,6 tahun) dari 248 sekolah di Republik Ceko. Pemilihan sekolah
dilakukan secara acak untuk memastikan representativitas.
Proses
penelitian dilakukan melalui tiga tahap utama:
- Evaluasi awal (36 item) dengan analisis statistik
deskriptif, Confirmatory Factor Analysis (CFA), dan Item
Response Theory (IRT) untuk menilai fungsi butir.
- Modifikasi instrumen berdasarkan hasil IRT
(menghapus item yang bermasalah), hingga diperoleh versi akhir dengan 33
item.
- Uji validitas dan reliabilitas versi akhir
menggunakan CFA, korelasi antar variabel, serta koefisien Cronbach’s Alpha
dan McDonald’s Omega.
Instrumen akhir
mengukur tiga kemampuan utama berpikir kritis: analisis, evaluasi, dan
inferensi. Validitas kriteria diuji melalui korelasi dengan self-assessment of
study outcomes dan educational aspirations.
Hasil:
Hasil uji Confirmatory
Factor Analysis (CFA) menunjukkan bahwa model tiga faktor (analytical,
evaluative, inferential) sesuai dengan teori dan memiliki goodness of fit
yang sangat baik (CFI = 0,980; RMSEA = 0,017). Nilai korelasi antar subtes juga
tinggi (0,94–0,98), menandakan bahwa ketiga subfaktor memang membentuk satu
konstruk umum, yaitu berpikir kritis. Uji Item Response Theory (IRT)
menunjukkan bahwa model 3-Parameter Logistic (3PL) lebih sesuai dibanding model
2PL. Setelah eliminasi tiga item bermasalah (inf12, eva10, dan eva11), model
dengan 33 item memberikan hasil terbaik dengan peningkatan log likelihood
dan penurunan nilai AIC serta BIC.
Reliabilitas
tes juga tinggi dengan Cronbach’s Alpha dan McDonald’s Omega sebesar 0,81,
menunjukkan konsistensi internal yang sangat baik. Validitas kriteria juga
memadai dengan korelasi positif sedang antara skor CTT dan:
- Self-assessment of study outcomes (r = 0,34)
- Educational aspirations (r = 0,41)
Kesimpulan:
Penelitian ini menyimpulkan bahwa versi singkat CTT (33
item) merupakan alat ukur yang valid, reliabel, dan efisien untuk mengukur
kemampuan berpikir kritis pada remaja. Tes ini dapat diselesaikan dalam waktu
kurang dari 45 menit, menjadikannya praktis untuk digunakan di sekolah-sekolah.
CTT mengukur tiga kemampuan utama berpikir kritis yang saling
berhubungan, antara analisis, evaluasi, dan inferensi dan dapat digunakan untuk menilai
efek program pendidikan terhadap perkembangan berpikir kritis. Penulis juga
menegaskan bahwa penelitian lanjutan akan dilakukan tiga tahun kemudian untuk melacak
perkembangan berpikir kritis siswa yang sama, sehingga CTT dapat berfungsi
sebagai instrumen longitudinal untuk memantau pertumbuhan kemampuan berpikir
kritis di tingkat sekolah menengah.
Kelebihan penelitian:
·
Menggunakan sampel besar dan representatif (N =
9.495).
·
Menggabungkan pendekatan CFA dan IRT secara
sistematis untuk validasi instrumen.
·
Menghasilkan instrumen yang ringkas, efisien,
dan berbasis teori kuat (Bloom, Dwyer, Facione).
·
Menunjukkan reliabilitas dan validitas yang
tinggi untuk konteks remaja.
·
Memiliki potensi aplikasi internasional karena
disiapkan dalam empat bahasa (Ceko, Inggris, Rusia, Ukraina).
Kekurangan/gap penelitian:
·
Tes masih berbasis teks, sehingga bergantung
pada kemampuan membaca siswa.
·
Belum diuji secara lintas budaya karena versi
bahasa lain belum memiliki jumlah responden yang cukup.
·
Aspek etika dan kolaboratif berpikir kritis
belum diukur dalam versi ini.
·
Validasi masih terbatas pada analisis
korelasional, belum mencakup uji prediktif terhadap hasil akademik nyata.
Novelty:
Kebaruan penelitian yang dilakukan oleh Hanzlová dan
Kudrnáč (2024) terletak pada pengembangan alat ukur berpikir kritis yang secara
khusus dirancang dan divalidasi untuk remaja, sebuah kelompok usia yang
sebelumnya belum banyak memiliki instrumen pengukuran yang teruji secara
empiris. Sebagaimana dijelaskan dalam artikel ini, para peneliti sebelumnya
memang telah mengembangkan berbagai instrumen untuk menilai kemampuan berpikir
kritis di berbagai kelompok usia dan konteks pendidikan (Ennis et al., 1985; Facione
& Facione, 1994). Disebutkan di artikel “However, we still lack
validated measures of critical thinking, especially among adolescents.”
Masa remaja merupakan fase penting dalam kehidupan yang ditandai oleh
kematangan kognitif, eksplorasi identitas, dan meningkatnya paparan terhadap
beragam perspektif serta sumber informasi (Steinberg, 2014). Oleh karena itu,
diperkenalkannya alat ukur berpikir kritis yang valid dan reliabel bagi remaja
menjadi langkah signifikan bagi praktisi pendidikan, peneliti, dan pembuat
kebijakan. Dalam artikel ini, penulis berkontribusi pada literatur dengan menghadirkan
tes berpikir kritis yang dirancang khusus untuk remaja, berdasarkan kerangka
teoretis dari Bloom (1956), Dwyer et al. (2014), Halpern
(2014), dan Paul & Elder (2006), yang menilai tiga kemampuan
utama berpikir kritis yaitu analitis, evaluatif, dan inferensial. Melalui
proses validasi ketat yang mencakup validitas isi, konstruk, dan kriteria
dengan menguji korelasi skor tes terhadap penilaian diri siswa serta aspirasi
pendidikan, penelitian ini memperkenalkan tes 36 butir yang memberikan peluang
baru untuk mengukur kemampuan berpikir kritis secara efektif di kalangan remaja
(Hanzlová & Kudrnáč, 2024, p. 1).

Comments
Post a Comment