Analisis atau Review Kritis Substansi Artikel Tentang Positivisme dan Post Positivisme Beserta Karakteristiknya
Hallo, Wellcome to my blog💗
Perkenalkan saya Cindy Tyas Harvina, saya merupakan mahasiswi S2 Pendidikan Fisika di Universitas Negeri. Pada kesempatan kali ini, saya sedang menempuh mata kuliah Metodologi Penelitian Kuantitatif.
Saya akan membagikan Deskripsi Novelty dan Analisis Kritis Artikel mengenai materi Hakikat penelitian pendidikan: Peran penelitian pendidikan, isu-isu epistemologi dalam penelitian pendidikan: modernism (positivisme) dan posmodernism (post-positivisme). dari artikel yang berjudul "Students’ implicit epistemologies when working at the intersection of engineering and the arts. "
A. Tujuan
Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi
epistemologi implisit mahasiswa di program Digital Culture Arizona State
University, khususnya bagaimana mereka menilai, menggunakan, dan
mengidentifikasi pengetahuan ketika menavigasi proyek lintas bidang seni dan
teknik.
B. Metode
Penelitian
Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif
dengan enam wawancara semi-terstruktur terhadap mahasiswa tingkat akhir yang
mengerjakan capstone project. Data dianalisis melalui dua tahap: (1) a
priori coding berdasarkan kerangka epistemologi (positivisme,
konstruksionisme, pragmatisme, dll.), dan (2) discourse analysis untuk
menelaah bahasa yang digunakan mahasiswa dalam menjelaskan pengetahuan dan
problem solving.
C. Hasil
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa tidak
berpegang pada satu epistemologi tunggal, melainkan berpindah secara fleksibel
antara positivisme, konstruksionisme, dan pragmatisme sesuai konteks proyek.
Peneliti memperkenalkan konsep baru bernama “boundary epistemologies”,
yaitu cara berpikir yang dapat bernilai berbeda antar disiplin dan memungkinkan
mahasiswa melintasi batas epistemologis seni dan teknik. Identitas diri
mahasiswa (sebagai “engineer” atau “artist”) sangat memengaruhi posisi
epistemologis yang mereka ambil, sekaligus memperlihatkan adanya ketegangan dan
perasaan defisiensi saat epistemologi dominan (misalnya positivistik dalam
teknik) lebih diprioritaskan.
D. Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pengalaman
belajar transdisipliner mendorong mahasiswa untuk mengadopsi pandangan
epistemologis yang cair dan kontekstual. Hal ini berimplikasi pada desain
pembelajaran capstone project di ranah STEAM, yang perlu mengakomodasi
keragaman epistemologi agar mahasiswa lebih siap menghadapi kompleksitas dunia
nyata.
E. Kelebihan
dan Keterbatasan Penelitian
Kelebihan penelitian ini terletak pada eksplorasi
mendalam dengan analisis wacana, pengungkapan dinamika identitas epistemologis
mahasiswa, serta kontribusi teoritis berupa konsep boundary epistemologies.
Namun, keterbatasannya adalah jumlah partisipan yang kecil (N=6) sehingga
temuan tidak bisa digeneralisasikan, hanya ditransfer ke konteks serupa. Selain
itu, analisis wacana memerlukan waktu panjang sehingga kurang skalabel untuk
penelitian besar.
F. Novelty
Novelty penelitian ini ada pada pengenalan konsep boundary
epistemologies dan penerapannya dalam konteks pendidikan transdisipliner
seni dan rekayasa. Penelitian ini melampaui dikotomi tradisional positivisme vs
konstruktivisme dengan menekankan fluiditas epistemologi mahasiswa ketika
bergerak di ranah STEAM, memberikan sudut pandang baru dalam merancang
pembelajaran lintas disiplin.
Comments
Post a Comment