Analisis atau Review Kritis Substansi Artikel Tentang Pemilihan masalah penelitian, dan pertanyaan penelitian
Hallo, Wellcome to my blog💗
Perkenalkan saya Cindy Tyas Harvina, saya merupakan mahasiswi S2 Pendidikan Fisika di Universitas Negeri. Pada kesempatan kali ini, saya sedang menempuh mata kuliah Metodologi Penelitian Kuantitatif.
Saya akan membagikan Deskripsi Novelty dan Analisis Kritis Artikel mengenai materi Penelitian kualitatif dan kuantitatif: Pemilihan masalah penelitian, dan pertanyaan penelitian, dari artikel yang berjudul "Learning How to Develop a Research Question Throughout the Phd Process: Training Challenges, Objectives, and Scaffolds Drawn from Doctoral Programs for Students and Their Supervisors"
Tujuan
Penelitian:
Artikel ini bertujuan menawarkan kerangka (framework) untuk merancang program pelatihan doktoral yang secara khusus mendukung proses pengembangan research question bagi mahasiswa doktoral, dengan panduan dari pembimbing mereka. Penulis ingin menunjukkan tantangan, tujuan pembelajaran, dan scaffolding yang efektif untuk mengembangkan kemampuan merumuskan pertanyaan penelitian.
Metode
Penelitian:
Menggunakan pendekatan studi kasus (case study) dengan data dari:
- Observasi etnografi (participant observer).
- Analisis dokumen program (brosur, artikel, jadwal, modul).
- Umpan balik mahasiswa doktoral dan supervisor.
- Review literatur terkait pengembangan pertanyaan penelitian, scaffolding, dan pendidikan doktoral.
Analisis dilakukan dengan
menyusun kerangka konsep (scaffolds, learning challenges, training objectives).
Hasil
Penelitian:
Artikel menghasilkan kerangka scaffolding untuk pengembangan pertanyaan penelitian yang memuat:
Tiga tantangan utama (learning challenges):
- Memberdayakan mahasiswa doktoral dalam mengembangkan pertanyaan penelitian dengan dukungan supervisor.
- Menyadari dan memahami keragaman bentuk/proses pengembangan pertanyaan penelitian lintas disiplin.
- Mengetahui bagaimana mengembangkan pertanyaan penelitian sepanjang proses PhD
- Memahami sifat iteratif dan tidak terduga dari riset.
- Menjelaskan peran supervisor dan mahasiswa.
- Menghargai keberagaman pendekatan epistemologis.
- Mampu mengartikulasikan pertanyaan penelitian secara lisan dan tulisan sepanjang perjalanan doktoral.
Scaffolding yang digunakan:
- Workshop dialogis dengan mahasiswa lintas disiplin.
- Kolaborasi mahasiswa–supervisor dalam sesi bersama.
- Latihan reformulasi topik penelitian dari tahun ke tahun.
- Pemanfaatan kerangka teori.
Kesimpulan:
·
Pengembangan pertanyaan penelitian adalah proses
dialogis, reflektif, dan berlapis sepanjang perjalanan doktoral.
· Pelatihan efektif bila: menyediakan banyak ruang dialog, memanfaatkan heterogenitas peserta (lintas disiplin, pengalaman), menekankan komunikasi lisan untuk menyingkap dimensi subjektif mahasiswa doktoral. Program pelatihan dapat mempercepat proses mahasiswa menemukan dan merumuskan pertanyaan riset yang matang, serta meningkatkan kemandirian intelektual mereka.
Kelebihan:
- Menawarkan kerangka konseptual yang komprehensif (tantangan, tujuan, scaffolding).
- Mengintegrasikan teori pendidikan (Vygotsky, scaffolding, peer learning) dengan praktik nyata.
- Menggunakan data empiris jangka panjang (10 tahun, dua program).
- Memperhatikan dimensi psikologis dan sosial mahasiswa doktoral, bukan hanya teknis akademis.
Keterbatasan:
- Studi terbatas pada konteks INRAE (Prancis), sehingga generalisasi ke negara atau sistem lain perlu kehati-hatian.
- Data lebih banyak berupa observasi dan umpan balik, tidak ada pengukuran kuantitatif yang sistematis.
- Durasi pelatihan (4 hari) mungkin tidak cukup merepresentasikan seluruh kompleksitas perjalanan PhD.
Novelty
(Kebaruan):
Penelitian-penelitian sebelumnya tentang pengembangan pertanyaan
penelitian umumnya terbatas pada konteks sekolah menengah (Dah dkk., 2023),
penguatan berpikir tingkat tinggi (Seibert, 2023), latihan formulasi pertanyaan
umum melalui QFT (Leon, 2024), atau penerapan scaffolding digital dalam inquiry
STEM (Kaldaras dkk., 2024). Studi-studi tersebut cenderung berfokus pada
intervensi jangka pendek dan instrumen tunggal, tanpa menyoroti dimensi
dialogis, epistemologis, serta iteratif yang khas dalam proses pendidikan
doktoral. Kebaruan artikel Girard dkk. (2024) terletak pada kerangka
komprehensif yang memetakan tantangan belajar, tujuan pelatihan, dan bentuk
scaffolding untuk mendukung mahasiswa PhD dalam merumuskan research question.
Kerangka ini menekankan pentingnya dialog lintas disiplin, kolaborasi
mahasiswa–pembimbing, serta reformulasi berulang sepanjang perjalanan doktoral,
sehingga mampu mengisi gap yang belum ditangani studi sebelumnya.
Comments
Post a Comment